Briket Limbah Menghilangkan Sampah

Berbicara mengenai sampah dan permasalahannya seakan-akan tidak ada habisnya.
Bahkan berbagai argumen dan solusi pemecahan masalah sampah sudah sering kali
kita dengar maupun baca dari berbagai media massa.

Kali ini, penulis tidak akan menyoroti sampah sebagai sumber permasalahan yang
menimbulkan polemik di masyarakat, tapi cenderung berasumsi sampah sebagai
sumber berkah.

Dari sekian banyak berita yang penulis baca, sebagian besar para penulis atau
“pakar” sampah menyodorkan berbagai pandangan alternatif pemecahan masalah
sampah hanya sebagai sebuah wacana yang belum terealisasi. Meskipun tidak
dimungkiri opini-opini tersebut secara keseluruhan bertujuan memberikan
kontribusi positif bagi pihak-pihak yang terkait dalam penanggulangan sampah.
Tetapi apa yang penulis utarakan dalam tulisan ini kiranya dapat dipandang
sebagai tindak konkret dalam penyelesaian masalah sampah.

Bagi penulis, sampah bukan objek yang perlu didakwa sebagai sumber masalah,
menjijikkan, sumber bencana, bau, polusi atau tetek-bengek lainnya. Alangkah
bijaksananya bila kita menyadari, sampah merupakan bagian realita hidup yang
harus dihadapi.

Hal yang perlu dikembangkan dalam setiap insani anggota masyarakat adalah
bagaimana caranya menjadikan sampah sebagai objek yang memberikan manfaat bagi
manusia dan lingkungannya?

Komposisi sampah

Bila melihat dari segi komposisi kandungan sampah, ternyata sampah memiliki
potensi luar biasa. Kandungan materi dan komposisi sampah terdiri dari sejumlah
mikroorganisme bermanfaat, bahan organik dan anorganik. Kedua elemen tersebut
telah terbukti memberikan manfaat cukup besar bagi peri kehidupan manusia.

Sampah anorganik seperti plastik, besi, atau bahan logam lainnya yang notabene
sulit terdemineralisasi mikroorganisme tanah, oleh sebagian masyarakat
dimanfaatkan sebagai bahan dasar daur ulang menjadi perabotan baru.

Sedangkan sampah organik, sudah sejak lama diolah sebagai pupuk kompos yang
digunakan dalam bidang hortikultura maupun oleurikultura (budi daya tanaman
hias). Selain itu, ada sebagian masyarakat yang memanfaatkan sebagai bahan
dasar pembuatan biogas melalui proses biokonversi energi, seperti yang telah
dilakukan beberapa peternak sapi perah di daerah Pangalengan.

Proses pembuatan biogas ini dengan bantuan mikroorganisme bakteri pembusuk
Clostridium butyrinum, Bacteroides, atau bakteri perut Escherechia coli, serta
bakteri penghasil gas metan yaitu Methanobacter dan Methanobacilus. Aktivitas
kedua bakteri terakhir itulah yang diperkirakan sebagai penyebab timbulnya
ledakan pada TPA Leuwigajah sebelum terjadi longsor. Gas metan merupakan gas
yang bersifat eksplosif bila bersentuhan dengan sumber energi panas.

Mikroorganisme pengurai sampah pada umumnya merupakan kelompok bakteri
heterotrof. Bakteri jenis ini memanfaatkan sampah-sampah organik atau sisa
makhluk hidup sebagai sumber energinya. Bakteri yang sering dijumpai dalam
sampah antara lain bakteri nitrit (Nitrosococcus), bakteri nitrat
(Nitrobacter), Clostridium, dan sebagainya.

Bakteri Clostridium merupakan mikroorganisme pembusuk utama, berperan dalam
menguraikan asam amino dalam protein makhluk hidup, baik dari sampah tumbuhan
maupun sampah hewan menjadi suatu senyawa amoniak.

Senyawa inilah yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap pada sampah. Jadi
bila kita melewati tempat sampah tidak perlu menggerutu kesal karena bau.
Ternyata bau sampah menjadi indikasi adanya “bala bantuan” pengolah sampah.
Bayangkan bila sampah tidak berbau, kita akan lebih dipusingkan lagi akibat
sampah-sampah tersebut akan tetap utuh.

Briket sampah organik

Mendengar kata briket, kita tentu teringat briket batu bara yang pernah
dikenalkan kepada masyarakat beberapa tahun lalu. Namun sayangnya, alternatif
bahan bakar minyak tanah ini mandeg di tengah jalan. Sampai sekarang pun
gaungnya tidak terdengar lagi.

Kemungkinan penyebabnya adalah kurangnya pihak terkait mensosialisasikan kepada
masyarakat secara intensif. Faktor penyebab lain, kemungkinan sikap defensif
atau pola sikap enggan masyarakat menerima briket batu bara yang disebabkan
faktor “kemanjaan” masyarakat yang sudah terbiasa dengan minyak tanah, karena
relatif mudah pemakaiannya.

Bila mencermati informasi dari para pakar peneliti sumber daya alam. Mereka
menyatakan, kandungan sumber minyak bumi di wilayah Indonesia diprediksikan
hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan minyak dalam negeri sampai tahun 2010.
Jadi, sudah selayaknya semua pihak memikirkan alternatif bahan bakar lain yang
tidak hanya mengandalkan bahan dasar minyak.

Berdasarkan percobaan yang penulis terapkan pada siswa-siswa kelas VII SMP
Negeri 3 Rancaekek, Bandung, ternyata diperoleh beberapa informasi mengenai
keunggulan briket sampah dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak tanah atau
kayu.

Pertama, cara pembuatan briket sampah ini relatif mudah, murah dan tidak
memakan waktu lama. Cara pembuatannya mudah, karena yang diperlukan hanya
sampah organik yang mudah ditemukan di sekitar kita. Bahan dasarnya dapat
berupa, kayu-kayu sisa, daun-daun kering, makanan sisa, kertas.

Bahan-bahan tersebut, pertama-tama dibakar sampai menjadi bentuk arang berwarna
hitam pekat. Agar tidak sampai menjadi abu, pada saat bara api merata ke
seluruh bagian bahan, segera disiram air secukupnya.

Langkah selanjutnya, arang tersebut ditumbuk dengan menggunakan alat penumbuk,
martil, batu, atau alat-alat berat lainnya sampai menjadi halus. Saat menumbuk
ditambahkan daun-daun tanaman segar yang memiliki sifat lunak dan cukup
kandungan air. Daun-daunan ini dapat diambil dari sisa-sisa sampah pasar atau
sayuran yang sudah terbuang, contohnya bayam, kangkung, sawi, daun pepaya atau
jenis-jenis sayuran lain. Hal tersebut sekaligus dapat menjadi solusi
pengurangan penumpukan sampah yang banyak kita jumpai di pasar-pasar.

Persentase komposisi bahan pembuatan briket organik adalah 80% sampah organik
kering dan 20% campuran daun segar. Jadi bila ingin mencoba membuatnya,
seandainya sampah organik yang digunakan seberat 800 gram, maka daun segar yang
ditambahkan sebanyak 200 gram. Atau kelipatan dari jumlah tersebut.

Setelah kedua bahan tersebut tercampur rata, kemudian adonan dicetak dengan
ukuran dan bentuk menurut selera pembuatnya. Briket yang telah dibuat
selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari sampai kering.

Proses pengeringan bergantung kondisi cuaca. Pengeringan hanya memakan waktu
sehari bila matahari bersinar penuh. Sedangkan tanda-tanda briket sudah kering
atau belum mudah ditebak dengan cara meletakkan dan mengangkatnya di telapak
tangan.

Briket kering terasa lebih ringan dan jelaga di permukaan tidak terlalu
mengotori permukaan telapak tangan.

Nasi pulen

Sejumlah kelebihan penggunaan briket sampah organik adalah rasa dan aroma
masakan. Dari percobaan hasil pengolahan masakan yang menggunakan kompor minyak
tanah dan tungku briket sampah, diperoleh cita rasa berbeda. Nasi terasa lebih
pulen dan masakan lain lebih legit.

Berdasarkan hasil wawancara, 90% dari jumlah siswa dua kelas yang diuji coba
menyatakan, masakan dari bahan bakar briket lebih khas dibandingkan dengan
masakan dari bahan bakar minyak tanah yang kata mereka, “Bau asap!”

Kelebihan briket kedua adalah daya panas yang dihasilkan dari pembakaran briket
sampah tak kalah dibandingkan dengan bahan bakar minyak. Hasil percobaan
penulis, untuk memanaskan 1 liter air hanya memerlukan sekitar 300 gram briket
dalam waktu kurang lebih 12 menit (dengan catatan bara api sudah merata).

Di samping itu, briket sampah memiliki kemampuan penyebaran bara api yang baik,
tak mudah padam, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk pengipasan.
Tanpa dikipasi pun briket sampah organik mudah menyala dengan stabil.

Kelebihan ketiga adalah volume asap yang dikeluarkan briket sampah tidak
sebanyak yang dihasilkan kayu atau minyak tanah. Dan yang lebih utama,
kandungan karbon dioksida dan karbon monoksida sebagai hasil sampingan
pembakaran tidak sedahsyat kayu atau bahan bakar minyak tanah.

Indikasinya, terlihat dengan reaksi para siswa yang berada di sekitar tungku
briket tidak mengalami gejala sesak napas atau mata pedih akibat iritasi,
seperti halnya yang dikeluhkan para ibu rumah tangga yang memakai minyak tanah.

Berkurangnya asap yang diproduksi disebabkan karbon dioksida, karbon monoksida,
dan kandungan air yang tersimpan dalam bahan briket telah direduksi pada saat
proses pembakaran pertama (arang).

Kelebihan keempat adalah peralatan tungku yang digunakan untuk keperluan bahan
bakar briket relatif lebih murah dan lebih mudah dalam perawatannya. Jenis
tungku yang digunakan terbuat dari tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa.
Jenis tungku ini sudah dikenal sejak lama dalam masyarakat tradisional
Indonesia.

Dari segi aroma, briket sampah tidak jauh berbeda dengan bau khas arang yang
dibakar. Bahkan masyarakat daerah tertentu, seperti masyarakat pedesaan lebih
menyukai menggunakan bahan bakar nonminyak dengan alasan perbedaan rasa dan
aroma.***

Hermin N. Farid,

Praktisi pendidikan Biologi. Alumnus Biologi ITB.

Source: http://www.mail-archive.com/info@rw14.web.id/msg01018.html

About these ads
This entry was posted in Sampah dan Energi Alternatif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s