Panen Minyak dari Sampah

KabarIndonesia – Tiga pria dan dua wanita warga Desa Domplang, Karangpandan, Karanganyar, terlihat sibuk memunguti kol, sawi, tomat, dan jeruk dari tumpukan sampah di pasar Karangpandan. Kulit durian dan nangka pun tak luput dari incaran mereka. Sampah sayur dan buah lalu dimasukkan ke karung dan dibawa ke penampungan dengan sepeda motor. Di sana sampah itu diolah jadi minyak tanah.

Minyak tanah? Ya, sampah organik itu mengandung karbohidrat berupa selulosa dan glukosa. Sampah itu jadi bahan baku bioetanol berkadar rendah yang daya bakarnya setara minyak tanah. “Kadarnya etanol yang dihasilkan 45-50%. Namun sudah mampu gantikan minyak tanah untuk bahan bakar kompor,” kata Soelaiman Budi Sunarto, pencetus bioetanol dari sampah di Karanganyar, Jawa Tengah.

Di penampungan sampah organik lalu dihancurkan dengan mesin pemeras. Cairan yang keluar dari perasan disaring kain kasa dan dikumpulkan di drum plastik.  Setiap 100 liter air perasan ditambahkan 100 g ragi, 2 sendok makan urea, dan 1 sendok NPK, lalu didiamkan 5 hari agar proses fermentasi-perubahan karbohidrat menjadi bioetanol-berlangsung.

Berikutnya bioetanol yang masih bercampur air disuling selama 12 jam di sebuah drum agar terpisah. “Agar biaya rendah, bahan bakar untuk menyuling dipakai sekam atau kayu bekas yang tidak berharga,” kata Budi. Menurut Budi dari 1 ton sampah organik dihasilkan 20% air perasan sampah-setara 200 kg. Setelah disuling diperoleh 26,6% bioetanol berkadar 45% yang setara dengan 53,2 kg bioetanol.

Bioetanol berkadar rendah-setara minyak tanah-itu masih bisa ditingkatkan kadar kemurniannya dengan penyulingan bertingkat atau pengaturan panas saat proses. “Bila kadarnya ditingkatkan menjadi 98-100% setara dengan bensin yang bisa dipakai untuk kendaraan bermotor,” tutur Budi.

Selain ‘minyak tanah’ Budi juga mendapat bonus produk lain. Yang pertama ampas sampah padatan bisa diolah menjadi pakan ternak dan pupuk kompos. Yang kedua sisa sulingan bioetanol-yang berupa air-dapat diolah menjadi pupuk cair setelah dicampur dengan urin mamalia. Pupuk cair asal sisa sulingan plus urin kaya nitrogen dan ion yang mudah diserap tanaman.

Melimpah

Menurut Budi lahirnya bioetanol dari sampah organik menjadi jawaban atas langkanya bahan baku bioetanol dari singkong dan sorghum. “Dari singkong dan shorgum butuh waktu 3-8 bulan untuk menanam sampai panen. Pada sampah bahan bakunya sudah tersedia sehingga tak perlu menunggu,” kata Budi.

Toh, menurut Budi bioetanol dari singkong dan sorghum sudah jauh lebih baik ketimbang bahan bakar fosil yang butuh waktu 150 juta tahun untuk membentuknya. “Intinya ini menjadi alternatif yang pantas dilakukan ketimbang sampah menjadi problem masyarakat,” katanya.

Belakangan sampah memang menjadi masalah yang mendera berbagai kota di tanahair. Sebut saja Jakarta. Setiap hari dihasilkan 6.000 ton sampah per hari dari aktifitas warganya. Lalu berturut-turut Surabaya (5.200 ton), Semarang (4.300 ton), dan Palembang (2.877 ton). Diperkirakan sebanyak 70% dari sampah itu berupa sampah organik dan sisanya 30% sampah anorganik.

Tingginya jumlah sampah organik di perkotaan itu menurut Prof Dr Ir Nuni Gofar MS, guru besar ilmu tanah di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang, akibat pola pertanian Indonesia yang memanen dan mengirim seluruh bagian tanaman ke pusat konsumsi di kota. Itu membuat bagian tanaman yang tidak termakan manusia di sortir di pasar, di dapur, dan pusat perbelanjaan di perkotaan yang membentuk tumpukan sampah organik yang menjadi masalah.

Kesatuan sistem

Jumlah sampah kota itu selalu meningkat dari tahun ke tahun. Riset Tarsoen Waryono, dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, melaporkan pada 2000 sampah di 384 kota di Indonesia jumlahnya 80,2 juta ton per hari dan meningkat menjadi 89,6 juta ton per hari pada 2006.

Sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebesar 10,4 %, dibakar sebesar 24,8 %, hanyut ke sungai 1,9 % dan tidak tertangani sebesar 62,9 %. Yang paling anyar ialah kasus Tangerang Selatan yang kesulitan mencari penampungan sampah karena ditolak tempat penampungan sampah di Tangerang.

Menurut Endang Kurniawan SSi MT, direktur Indonesia Environment Consultant di Jakarta, pengolahan sampah sebagai bahan baku bioenergi menjadi produk baru yang mesti dipahami secara jernih. “Bioetanol, pakan ternak, kompos, dan pupuk cair dari sampah jangan dipandang sebagai usaha murni. Namun, harus dilihat sebagai kesatuan sistem pengolahan sampah,” katanya. Belakangan dari sampah dapat pula diolah menjadi tenaga listrik dan biogas.

Endang mengkhawatirkan pengolahan sampah menjadi beragam komoditi itu membuat pemerintah atau pihak swasta menganggap usaha itu sebagai bisnis menguntungkan. “Nilai jual beragam komoditi itu masih rendah bila dibandingkan dengan komoditi sejenis yang anorganik. Misalnya, minyak tanah dari bahan fosil atau pupuk kimia anorganik. Jadi harga jual produk tidak kompetitif,” kata master Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung itu.

Dengan kata lain, biaya investasi dan biaya produksi yang dikeluarkan sangat tinggi ketimbang nilai jual produk. Sebaliknya, bila dipandang sebagai kesatuan sistem pengolahan sampah, maka lahirnya beragam komoditi berguna itu sangat menguntungkan. “Biaya produksi diambil dari biaya pengolahan sampah yang dipungut oleh Dinas Kebersihan Kota atau swasta dari konsumen. Sementara biaya investasi diambil dari pemerintah daerah atau investor,” kata Endang.

Selama ini iuran rumah tangga konsumen untuk pembuangan sampah rata-rata Rp 3.500 – Rp 5.000 per bulan. “Biasanya disebut uang sampah atau uang kebersihan,” kata Endang. Tentu itu masih jauh dari biaya yang harus dikeluarkan, nilai yang ideal di kisaran Rp 10.000 – Rp 20.000 per bulan.

Menurut Endang bila cara pandang kedua yang dipahami oleh pemerintah daerah, maka munculnya produk bioenergi, pakan ternak, kompos, dan pupuk cair dari sampah menjadi nilai tambah dari pengolahan sampah yang selama ini tak menghasilkan apa-apa. Tertarik ikuti jejak warga Karangpandan memanen minyak dari sampah? (Destika Cahyana)

Source: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Panen+Minyak+dari+Sampah&dn=20100308231826

Posted in Sampah dan Energi Alternatif | Leave a comment

Briket Limbah Menghilangkan Sampah

Berbicara mengenai sampah dan permasalahannya seakan-akan tidak ada habisnya.
Bahkan berbagai argumen dan solusi pemecahan masalah sampah sudah sering kali
kita dengar maupun baca dari berbagai media massa.

Kali ini, penulis tidak akan menyoroti sampah sebagai sumber permasalahan yang
menimbulkan polemik di masyarakat, tapi cenderung berasumsi sampah sebagai
sumber berkah.

Dari sekian banyak berita yang penulis baca, sebagian besar para penulis atau
“pakar” sampah menyodorkan berbagai pandangan alternatif pemecahan masalah
sampah hanya sebagai sebuah wacana yang belum terealisasi. Meskipun tidak
dimungkiri opini-opini tersebut secara keseluruhan bertujuan memberikan
kontribusi positif bagi pihak-pihak yang terkait dalam penanggulangan sampah.
Tetapi apa yang penulis utarakan dalam tulisan ini kiranya dapat dipandang
sebagai tindak konkret dalam penyelesaian masalah sampah.

Bagi penulis, sampah bukan objek yang perlu didakwa sebagai sumber masalah,
menjijikkan, sumber bencana, bau, polusi atau tetek-bengek lainnya. Alangkah
bijaksananya bila kita menyadari, sampah merupakan bagian realita hidup yang
harus dihadapi.

Hal yang perlu dikembangkan dalam setiap insani anggota masyarakat adalah
bagaimana caranya menjadikan sampah sebagai objek yang memberikan manfaat bagi
manusia dan lingkungannya?

Komposisi sampah

Bila melihat dari segi komposisi kandungan sampah, ternyata sampah memiliki
potensi luar biasa. Kandungan materi dan komposisi sampah terdiri dari sejumlah
mikroorganisme bermanfaat, bahan organik dan anorganik. Kedua elemen tersebut
telah terbukti memberikan manfaat cukup besar bagi peri kehidupan manusia.

Sampah anorganik seperti plastik, besi, atau bahan logam lainnya yang notabene
sulit terdemineralisasi mikroorganisme tanah, oleh sebagian masyarakat
dimanfaatkan sebagai bahan dasar daur ulang menjadi perabotan baru.

Sedangkan sampah organik, sudah sejak lama diolah sebagai pupuk kompos yang
digunakan dalam bidang hortikultura maupun oleurikultura (budi daya tanaman
hias). Selain itu, ada sebagian masyarakat yang memanfaatkan sebagai bahan
dasar pembuatan biogas melalui proses biokonversi energi, seperti yang telah
dilakukan beberapa peternak sapi perah di daerah Pangalengan.

Proses pembuatan biogas ini dengan bantuan mikroorganisme bakteri pembusuk
Clostridium butyrinum, Bacteroides, atau bakteri perut Escherechia coli, serta
bakteri penghasil gas metan yaitu Methanobacter dan Methanobacilus. Aktivitas
kedua bakteri terakhir itulah yang diperkirakan sebagai penyebab timbulnya
ledakan pada TPA Leuwigajah sebelum terjadi longsor. Gas metan merupakan gas
yang bersifat eksplosif bila bersentuhan dengan sumber energi panas.

Mikroorganisme pengurai sampah pada umumnya merupakan kelompok bakteri
heterotrof. Bakteri jenis ini memanfaatkan sampah-sampah organik atau sisa
makhluk hidup sebagai sumber energinya. Bakteri yang sering dijumpai dalam
sampah antara lain bakteri nitrit (Nitrosococcus), bakteri nitrat
(Nitrobacter), Clostridium, dan sebagainya.

Bakteri Clostridium merupakan mikroorganisme pembusuk utama, berperan dalam
menguraikan asam amino dalam protein makhluk hidup, baik dari sampah tumbuhan
maupun sampah hewan menjadi suatu senyawa amoniak.

Senyawa inilah yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap pada sampah. Jadi
bila kita melewati tempat sampah tidak perlu menggerutu kesal karena bau.
Ternyata bau sampah menjadi indikasi adanya “bala bantuan” pengolah sampah.
Bayangkan bila sampah tidak berbau, kita akan lebih dipusingkan lagi akibat
sampah-sampah tersebut akan tetap utuh.

Briket sampah organik

Mendengar kata briket, kita tentu teringat briket batu bara yang pernah
dikenalkan kepada masyarakat beberapa tahun lalu. Namun sayangnya, alternatif
bahan bakar minyak tanah ini mandeg di tengah jalan. Sampai sekarang pun
gaungnya tidak terdengar lagi.

Kemungkinan penyebabnya adalah kurangnya pihak terkait mensosialisasikan kepada
masyarakat secara intensif. Faktor penyebab lain, kemungkinan sikap defensif
atau pola sikap enggan masyarakat menerima briket batu bara yang disebabkan
faktor “kemanjaan” masyarakat yang sudah terbiasa dengan minyak tanah, karena
relatif mudah pemakaiannya.

Bila mencermati informasi dari para pakar peneliti sumber daya alam. Mereka
menyatakan, kandungan sumber minyak bumi di wilayah Indonesia diprediksikan
hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan minyak dalam negeri sampai tahun 2010.
Jadi, sudah selayaknya semua pihak memikirkan alternatif bahan bakar lain yang
tidak hanya mengandalkan bahan dasar minyak.

Berdasarkan percobaan yang penulis terapkan pada siswa-siswa kelas VII SMP
Negeri 3 Rancaekek, Bandung, ternyata diperoleh beberapa informasi mengenai
keunggulan briket sampah dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak tanah atau
kayu.

Pertama, cara pembuatan briket sampah ini relatif mudah, murah dan tidak
memakan waktu lama. Cara pembuatannya mudah, karena yang diperlukan hanya
sampah organik yang mudah ditemukan di sekitar kita. Bahan dasarnya dapat
berupa, kayu-kayu sisa, daun-daun kering, makanan sisa, kertas.

Bahan-bahan tersebut, pertama-tama dibakar sampai menjadi bentuk arang berwarna
hitam pekat. Agar tidak sampai menjadi abu, pada saat bara api merata ke
seluruh bagian bahan, segera disiram air secukupnya.

Langkah selanjutnya, arang tersebut ditumbuk dengan menggunakan alat penumbuk,
martil, batu, atau alat-alat berat lainnya sampai menjadi halus. Saat menumbuk
ditambahkan daun-daun tanaman segar yang memiliki sifat lunak dan cukup
kandungan air. Daun-daunan ini dapat diambil dari sisa-sisa sampah pasar atau
sayuran yang sudah terbuang, contohnya bayam, kangkung, sawi, daun pepaya atau
jenis-jenis sayuran lain. Hal tersebut sekaligus dapat menjadi solusi
pengurangan penumpukan sampah yang banyak kita jumpai di pasar-pasar.

Persentase komposisi bahan pembuatan briket organik adalah 80% sampah organik
kering dan 20% campuran daun segar. Jadi bila ingin mencoba membuatnya,
seandainya sampah organik yang digunakan seberat 800 gram, maka daun segar yang
ditambahkan sebanyak 200 gram. Atau kelipatan dari jumlah tersebut.

Setelah kedua bahan tersebut tercampur rata, kemudian adonan dicetak dengan
ukuran dan bentuk menurut selera pembuatnya. Briket yang telah dibuat
selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari sampai kering.

Proses pengeringan bergantung kondisi cuaca. Pengeringan hanya memakan waktu
sehari bila matahari bersinar penuh. Sedangkan tanda-tanda briket sudah kering
atau belum mudah ditebak dengan cara meletakkan dan mengangkatnya di telapak
tangan.

Briket kering terasa lebih ringan dan jelaga di permukaan tidak terlalu
mengotori permukaan telapak tangan.

Nasi pulen

Sejumlah kelebihan penggunaan briket sampah organik adalah rasa dan aroma
masakan. Dari percobaan hasil pengolahan masakan yang menggunakan kompor minyak
tanah dan tungku briket sampah, diperoleh cita rasa berbeda. Nasi terasa lebih
pulen dan masakan lain lebih legit.

Berdasarkan hasil wawancara, 90% dari jumlah siswa dua kelas yang diuji coba
menyatakan, masakan dari bahan bakar briket lebih khas dibandingkan dengan
masakan dari bahan bakar minyak tanah yang kata mereka, “Bau asap!”

Kelebihan briket kedua adalah daya panas yang dihasilkan dari pembakaran briket
sampah tak kalah dibandingkan dengan bahan bakar minyak. Hasil percobaan
penulis, untuk memanaskan 1 liter air hanya memerlukan sekitar 300 gram briket
dalam waktu kurang lebih 12 menit (dengan catatan bara api sudah merata).

Di samping itu, briket sampah memiliki kemampuan penyebaran bara api yang baik,
tak mudah padam, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk pengipasan.
Tanpa dikipasi pun briket sampah organik mudah menyala dengan stabil.

Kelebihan ketiga adalah volume asap yang dikeluarkan briket sampah tidak
sebanyak yang dihasilkan kayu atau minyak tanah. Dan yang lebih utama,
kandungan karbon dioksida dan karbon monoksida sebagai hasil sampingan
pembakaran tidak sedahsyat kayu atau bahan bakar minyak tanah.

Indikasinya, terlihat dengan reaksi para siswa yang berada di sekitar tungku
briket tidak mengalami gejala sesak napas atau mata pedih akibat iritasi,
seperti halnya yang dikeluhkan para ibu rumah tangga yang memakai minyak tanah.

Berkurangnya asap yang diproduksi disebabkan karbon dioksida, karbon monoksida,
dan kandungan air yang tersimpan dalam bahan briket telah direduksi pada saat
proses pembakaran pertama (arang).

Kelebihan keempat adalah peralatan tungku yang digunakan untuk keperluan bahan
bakar briket relatif lebih murah dan lebih mudah dalam perawatannya. Jenis
tungku yang digunakan terbuat dari tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa.
Jenis tungku ini sudah dikenal sejak lama dalam masyarakat tradisional
Indonesia.

Dari segi aroma, briket sampah tidak jauh berbeda dengan bau khas arang yang
dibakar. Bahkan masyarakat daerah tertentu, seperti masyarakat pedesaan lebih
menyukai menggunakan bahan bakar nonminyak dengan alasan perbedaan rasa dan
aroma.***

Hermin N. Farid,

Praktisi pendidikan Biologi. Alumnus Biologi ITB.

Source: http://www.mail-archive.com/info@rw14.web.id/msg01018.html

Posted in Sampah dan Energi Alternatif | Leave a comment

Mengolah Sampah Organik Menjadi Briket

Briket merupakan bahan bakar padat yang menjadi bahan bakar alternative pengganti minyak tanah. Saat ini bahan untuk membuat briket tak hanya dari batu bara saja. Sampah organik pun juga bisa dimanfaatkan

Sampah makin melimpah kian menjadi masalah. Tapi, bagi sebagian warga Bantul, khususnya di kawasan Kecamatan Kretek dan Bambanglipuro, banyaknya sampah justru menjadi berkah. Mereka mengolah sampah menjadi produk yang bermanfaat dan mendatangkan keuntungan ekonomi.

Salah satu produk “daur ulang” sampah itu adalah briket sampah. Saat ini ada sekitar tujuh sentra pembuatan briket sampah, tersebar di kawasan Kecamatan Kretek dan Bambanglipuro, Bantul.

Briket yang satu ini memang terbuat dari sampah. Tapi sampah yang dipakai bukan sembarang sampah, melainkan sampah organik. Dedaunan, kulit kelapa, rating-ranting tumbuhan kecil contohnya. Sebutan briket sampah, selain mengacu pada bahan baku, juga untuk membedakan dengan briket batu bara yang sudah ada dikenal masyarakat sebelumnya.

Edi Gunarto (35), salah seorang pemilik sentra pembuatan briket sampah menyebutkan bahwa kegiatan membuat briket ini mulai marak setahun lalu. Pengetahuan dan keterampilan membuat bahan bakar alternatif tersebut mereka dapat dari pelatihan yang diselenggarakan pemerintah desa setempat.

Edi sendiri menggunakan bahan baku kulit kacang dan serutan kayu sisa gergajian kayu untuk pembuatan briket. Penggunaan bahan baku kulit kacang dan sisa gergajian kayu itu lantaran bahan tersebut melimpah di rumahnya. Maklum, di rumahnya Edi juga memiliki usaha penggilingan pengupasan kacang dan penggergajian kayu sehingga tak perlu susah-susah membeli bahan baku.

“Sebenarnya tak harus kulit kacang, tapi semua sampah organik bisa untuk bahan baku. Daun-daunan misalnya, bisa dibuat briket,” ujarnya saat ditemui dirumahnya yang terletak di Dusun Plebengan, sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul.

Dibuat Arang Terlebih Dahulu

Membuat briket sampah tidaklah terlalu sulit. Proses pertama adalah proses membuat arang. Bahan baku yang berupa sampah dibuat arang dengan cara dibakar dalam tabung tertutup. Jika dibakar di dalam ruang atau tabung terbuka maka akan sampah yang dibakar akan menjadi abu. Pembakaran dapat dilakukan dengan menggunakan drum atau bak di dalam tanah. Setelah menjadi arang, sampah bakar kemudian digiling hingga berbentuk bubuk arang.

Selanjutnya, bubuk arang tersebut dicampur dengan adonan perekat yang terbuat dari kanji. Perbandingan campurannya, setiap satu kilogram adonan perekat, campuran bubuknya sebesar sepuluh kilogram (1 kg adonan perekat : 10 kg bubuk arang). Setelah itu barulah dilakukan pencetakan dan pengepresan dengan mesin. Pengepresan merupakan bagian sangat penting karena menyangkut kualitas kepadatan briket. Semakin padat briket, makin semakin tinggi daya nyala apinya. Proses pencetakan briket menentukan briket yang akan dibuat. Cetakan briket pun beragam, ada yang kotak dan ada juga yang bulat. Setelah proses pencetakan selesai, briket yang masih basah itu kemudian dikeringkan dengan cara dijemur selama kurang lebih 2 hari. jika tak ada panas, atau pada saat musim hujan, briket yang masih basah cukup didiamkan selama 4 hari. Setelah kering, briket pun siap digunakan.

Agar mudah dalam pemasarannya, briket dikemas dalam kantung plastik. Kemasan untuk rumah tangga biasanya dalam ukuran kiloan. Setiap 1 kg berisi 20 kotak briket. Satu kotak briket besarnya kurang lebih 4 cm x 4 cm dengan ketebalan sekitar 3 cm. Semakin kecil ukuran briket, maka semakin mudah untuk menyalakannya. Namun kelemahannya, briket ukuran kecil semakin cepat habis. Harga 1 kg briket sekitar Rp 2.500.

Lebih Irit Dari Kayu Bakar

Menggunakan briket untuk bahan bakar memasak, terhitung lebih irit dibanding minyak tanah. Hitungan sederhananya, untuk keperluan memasak nasi, sayur, dan gorengan lauk, jika menggunakan kompor minyak tanah akan menghabiskan sekitar 1 liter minyak yang harganya sekarang ini paling tidak sekitar Rp 3.000-an. Sedangkan jika menggunakan briket cukup hanya mengeluarkan uang Rp 1.250 untuk keperluan memasak.

“Bahkan hitungannya juga lebih irit dari kayu bakar, jika asumsinya kayu bakar juga membeli. Satu ikat kayu yang kemampuan nyalanya sebanding dengan setengah kilogram briket paling tidak sekarang harganya sekitar Rp 2.500. Jika memakai kayu masih harus melakukan proses pembakaran kayu yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sedangkan dengan briket, mudah ketika menyalakannya,” kata Ny. Atun (26) warga Samen, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, yang telah beralih menggunakan briket.

Selain lebih irit, briket sampah tidak akan mengotori peralatan masak ketika dipakai untuk memasak. Karena pembakaran bahan bakar ini tidak banyak mengeluarkan asap maupun jelaga. Apinya pun cenderung stabil menyala. “jelaganya tidak hitam, tapi putih dan lebih mudah dibersihkan,” lanjut Sudarti (28) pembuat briket sampah dari Tirtohargo, Kretek.

Mudah Nyala Di Tungku Kecil

Mendengar kata briket, umumnya yang muncul dalam ingatan kita adalah briket batu bara. Briket batu bara selama ini dikenal sebagai bahan bakar alternatif. Namun selama ini pemanfaatan bahan bakar tersebut masih sebatas untuk bahan bakar bagi industri besar.

Rumah tangga belum banyak yang memakainya karena selain agak sulit ketika menyalakannya untuk tungku kecil, harganya juga relatif mahal. Selain itu, di daerah pedesaan, briket batu bara juga agak sulit didapatkan.

Untuk menyalakan briket ini diperlukan tungku gerabah. Caranya, briket ditaruh di lubang di atas tungku. Kemudian briket dinyalakan dari atas. Untuk menyalakan briket sampah pun tidak sesulit briket batu bara. Untuk merangsang api menyala bisa menqqunakan bantuan secuil kain atau kertas. Tidak perlu hembusan angin dari kipas. Asal satu kotak briket sudah menyala maka dalam waktu cepat akan menular ke kotak briket lainnya.

Tungku untuk ukuran rumah tangga, biasanya menggunakan ukuran kapasitas 1/2 kg dan 1 kg briket. Kekuatan menyala 1/2 kg briket berkisar 1,5 jam. “Kapasitas tungku kecil bisa untuk memasak nasi, sayur, dan gorengan lauk secara bergantian. Bahkan sisanya masih bisa untuk menanak air untuk mandi,” kata Edi.

Sebagaimana briket pada umumnya, briket sampah ini memang belum banyak dikenal masyarakat luas. Sosialisasi pada konsumen masih sangat terbatas. Selain itu, kendala pengembangan produksi briket sampah, sebagaimana diungkapkan Gunarto, lebih pada peralatan. Selama ini produsen briket sampah di kedua daerah ini masih menqandalkan peralatan manual Akibatnya kualitas pada proses pres kurang bisa seragam kepadatannya.

Minyak tanah kian mahal dan langka. Gas juga setiap saat meroket harganya. Belum lagi rasa takut akibat pemberitaan kasus ledakan gas elpiji. Solusinya, boleh jadi briket sampah menjadi satu satu pilihan alternatif bahan bakar. Apapun alasannya, menggunakan apalagi membuat sendiri briket sampah jelas lebih menguntungkan. Selain lebih irit secara ekonomis, juga membantu mengurangi penumpukan sampah. Ini artinya, ikut menjaga kebersihan lingkungan. Singgir Kartana

Source: http://www.ampl.or.id/detail/detail01.php?tp=artikel&jns=kisah&kode=2034

Posted in Sampah dan Energi Alternatif | Leave a comment

Minyak Alternatif dari Sampah

indosiar.com, Karanganyar – Kelangkaan minyak tanah sepertinya bisa diatasi dengan kreatifitas. Seperti dari sampah organik di pasar berupa buah dan sayuran ternyata bisa diolah menjadi bahan bakar alternatif. Melalui proses fermentasi dan penyulingan, seorang warga Karanganyar, Jawa Tengah mencoba mengubah sampah tersebut menjadi bahan bakar pengganti minyak tanah.

Inilah sampah buah-buahan dan sayuran yang menjadi bahan dasar dari BBM alternatif pengganti minyak tanah. Ditemukan oleh Sulaiman Budi Sunarto, warga Karanganyar. BBM alternatif ini kini banyak dimanfaatkan ibu-ibu rumah tangga.  Pengolahan BBM alternatif ini dimulai menggiling sampah menjadi bubur, setelah diperas, air sari pati dicampur dengan enzim alfa amilase dan regilot yang kemudian diendapkan selama 5 hari. Sehingga terjadi fermentasi.

Hasil fermentasi inilah yang kemudian disuling menggunakan empat drum hingga menghasilkan tetesan air yang mengandung gas. Hasil sulingan dengan kadar etanol 75 persen inilah yang dimanfaatkan menjadi BBM pengganti minyak tanah.

Menurut Sulaiman, seluruh bahan dasar BBM ini adalah sampah organik yang diambil dari pasar dan rumah tangga. Sampah-sampah ini mengandung glukosa dan hemilulosa yang menjadi bahan utama produksi gas bio etanol. 500 kilogram sampah bisa dihasilkan 75 liter BBM dengan harga 3000 rupiah perliternya. Namun jika satu liter minyak tanah hanya bisa bertahan satu hari, maka satu liter BBM alternatif ini bisa memasak hingga seminggu. Selain murah dan hemat, BBM alternatif ini juga ramah lingkungan karena tidak berasap. (Danug Nugroho Adi/Sup)

Source: http://www.indosiar.com/fokus/77785/minyak-alternatif-dari-sampah

Posted in Sampah dan Energi Alternatif | Leave a comment

BAHAN BAKAR MINYAK DARI SAMPAH

Kota Solo sebagai kota budaya dan pariwisata ternyata juga sebagai kota penemu teknologi tepat guna sederhana yaitu mesin pengolah limbah sampah menjadi bahan bakar alternatif untuk keperluan rumah tangga. Di tangan Pak Petrus inilah sampah rumah tangga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk keperluan rumah tangga. Bahan bakar yang disebut minyak sampah ini dibuat dari sampah organik dengan proses fermentasi dan penyulingan.

Mari sehat dengan kundalini reiki ajak Anda berkunjung ke Kampung Danukusuman Kecamatan Serengan Solo. Kamis pagi minggu lalu Pak Petrus bersama sejumlah tetangga sedang berkarya mengubah sampah yang dianggap barang tidak berguna dan sering menimbulkan masalah lingkungan hidup karena begitu kotor dan kumuh, menjadi bahan baku yang bermanfaat untuk memasak. Salah satu bahan baku untuk membuat menjadi berguna adalah sampah rumah tangga yang berasal dari sampah organik dan non organik.

Awalnya sampah ini dipilah-pilah antara organik dan non organik. Sampah organik sebagaimana kita ketahui bersama adalah sampah hasil pembuangan sampah rumah tangga, pasar, warung atau restauran dan perkebunan berupa sisa sayur, buah busuk karena gagal panen atau nasi basi karena tidak laku terjual dan oleh pemilik warung lalu sisa dagangan ini dibuang ke tong sampah. Daripada barang habis pakai dan dianggap tidak berguna maka sampah ini ternyata masih mempunyai nilai plus bila diolah dengan benar.

Sampah organik hasil limbah rumah tangga.

Selain menimbulkan bau tidak sedap dan menimbulkan penyakit maka sampah organik ini dikumpulkan oleh pemulung lalu ditimbun menjadi satu dalam tong penyimpanan sementara. Setelah sampah organik ini terkumpul selanjutnya dihancurkan dengan cara digiling. Sampah yang telah lumat halus itu lalu diperas. Cara pemerasan menggunakan alat khusus. Hasil dari pemerasan bubur sampah berupa air berwarna kuning cerah.

Selanjutnya air perasan sampah organik ini digunakan sebagai bahan pembuatan minyak sampah, sementara ampas sampah perasaan dimanfaatkan untuk makanan ternak. Pembuatan minyak sampah lalu dilanjutkan ke segmen fermentasi dari hasil air perasan  sari sampah. Dengan mencampurkan bahan-bahan seperti ragi dan urea ke dalam sari sampah tersebut, selanjutnya didiamkan selama 1 minggu.

Memilah sampah menjadi sampah organik dan non organik di tempat penampungan sampah sementara sebelum dibawa ke Kampung Danukusuman Solo.

Waktu 1 minggu berlalu barulah dilakukan penyulingan dengan menggunakan tabung khusus yang sudah dipersiapkan. Air hasil penyulingan inilah yang disebut dengan minyak sampah. Begitu minyak sampah hasil penyulingan terkumpul dalam ember plastik barulah dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga seperti memasak dengan kompor layaknya menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Source: http://vtrediting.wordpress.com/2010/07/05/bakar-banyak-minyak-dari-sampah/

Posted in Sampah dan Energi Alternatif | Leave a comment

Briket Dari Sampah Organik

Sampah organik yang mencemari lingkungan ternyata dapat diolah menjadi briket sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah. Cara mengolahnya mudah, penggunaannya lebih hemat.

Purwanti tak pernah tampak pada barisan para ibu yang mengantre minyak tanah. Sepuluh bulan terakhir warga Sidomulyo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu memang meninggalkan minyak tanah. Ia memanfaatkan briket sampah sebagai bahan bakar. Briket berwarna hitam sepanjang 6 cm itu ia masukkan ke dalam kompor. Begitu Suwarni menyalakannya, lidah api biru membakar wajan atau ketel.

Sekilo briket terdiri atas 30 buah, cukup untuk memasak selama 2 jam. Jika durasi memasak kurang dari sejam-misalnya 30 menit-ia tinggal mematikan nyala api dengan cara menutup permukaan atas briket. Biobriket itu dapat dinyalakan ulang ketika Purwanti hendak memasak lagi. Perempuan kelahiran 1976 itu membeli sekilo briket Rp2.500. ‘Saat ini susah sekali mendapat minyak tanah. Saya mencari hingga 50 kilometer dari sini, tapi tak ada. Kalau pun ada harganya mahal,’ katanya.

Bandingkan dengan seliter minyak tanah yang juga digunakan selama 2 jam memasak. Saat ini harga minyak tanah Rp5.000 per liter. Artinya, Suwarni menghemat Rp2.500 per 2 jam memasak. Briket yang digunakan Purwanti itu oleh Basriyanta, sang produsen, disebut biobriket. Ada pula yang menyebutnya briket bioarang, briket biomassa, dan briket sampah. Basriyanta memproduksi biobriket sejak 2007.

Mandiri

Untuk mencegah rusaknya lingkungan akibat pemakaian kayu bakar, Basriyanta menawarkan biobriket. ‘Biobriket teknologi alternatif atau tepatguna pengganti kayu bakar yang lebih murah dan efektif,’ kata alumnus Magister Sistem Teknik Universitas Gadjah Mada itu. Selain itu peningkatan konsumsi minyak bumi mengakibatkan menipisnya cadangan sumber energi yang tak terbarukan. Pemanfaatan biobriket sekaligus menahan laju konsumsi energi fosil.

Dalam jangka panjang, penggunaan biobriket yang ramah lingkungan menjadi pengganti bahan bakar minyak bumi. Menurut Basriyanta biomassa limbah industri, hutan, perkebunan, pertanian, dan sampah-semua bahan baku biobriket-merupakan sumber energi alternatif terbesar. Potensi energi biomassa mencapai 885-juta gigajoule per tahun. ‘Sampah organik salah satu sumber biomassa potensial dalam bentuk padat atau biobriket, gas (biogas), dan bentuk cair (bioliquid) sebagai bahan bakar organik ramah lingkungan,’ ujarnya.

Sayang selama ini sampah cuma dibuang atau dibakar sehingga mencemari lingkungan. Padahal, jika diolah menjadi biobriket bermanfaat sebagai bahan bakar rumahtangga, pengganti minyak tanah. ‘Kita bisa mandiri, tidak tergantung pada minyak tanah. Kelangkaan dan kemahalan minyak tanah tidak jadi masalah,’ kata Basriyanta. Selain itu harga beli biobriket relatif murah.

Menurut Nisandi, alumnus Magister Sistem Teknik Universitas Gadjah Mada, murahnya biobriket karena untuk memperoleh bahan tanpa eksplorasi ke perut bumi. Bahan baku biobriket diperoleh di halaman rumah. Beragam jenis sampah organik kering seperti dedaunan, tongkol jagung, kulit kacang, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku. ‘Selain masalah energi, masalah sampah juga tertanggulangi dengan adanya briket sampah,’ kata Nisandi.

Pati singkong

Untuk membuat biobriket relatif sederhana. Basriyanta memasukkan bahan baku berupa sampah organik kering ke dalam drum. Menurut Ketua Lembaga Sentra Inovasi Energi itu, sampah terbaik adalah bonggol jagung. Setelah biji-biji jagung dipipil, tersisa tongkol. Daun pohon berkayu keras juga lebih baik ketimbang daun berkayu lunak. Bahan baku biobriket itu lalu dimasukkan ke dalam drum hingga sepertiga drum. Ia lantas membakarnya dengan udara terbatas dalam drum.

Dalam proses pembakaran itu terjadi proses pirolisis atau karbonisasi. Pirolisis yaitu proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen. Material mentah mengalami pemecahan struktur kimia menjadi fase gas sehingga menimbulkan karbon sebagai residu. Pembatasan udara supaya sampah tidak mengalami pembakaran sempurna yang menghasilkan karbondioksida. Hasilnya berupa arang sebagai bahan briket.

Untuk pembakaran sampah, Basriyanta menggunakan sistem pembakaran sendiri. Maksudnya, ia menyulut sebagian sampah kering dengan api. Setelah itu api menjalar dan membakar sampah lainnya hingga menjadi arang. Langkah berikutnya, ia menghancurkan arang dengan cara menumbuk dan mengayaknya.

Karbon hasil ayakan itu ia campur dengan perekat agar padat. ‘Pemadatan dilakukan agar bahan bakar mempunyai nilai kalori yang tinggi, sampai 5.000 kal/g,’ ujar Nisandi. Basriyanta memanfaatkan tepung kanji alias tapioka sebagai bahan perekat. Bahan lain sebagai perekat adalah blotong atau limbah produksi gula. Sekilo tapioka diencerkan dalam 10 kg air hangat dan diaduk merata hingga menjadi lem. Campuran karbon dan lem dimasukkan ke pencetak berupa pipa PVC sepanjang 10 cm dan berdiameter 1 inci. Ia kemudian mengepres campuran itu hingga padat sepanjang 6 cm. Hasil cetakan lantas dijemur hingga kering selama 2 hari. Basriyanta juga mengoven biobriket basah itu selama 2 jam. Sumber panas dalam oven itu adalah panas pembakaran sampah. Proses pembuatan biobriket sejak pembakaran daun-daun hingga pemadatan mencapai 2 jam; jika menggunakan tongkol jagung, 4 jam.

Isroi SSi MSi dan Dr Siswanto DEA, peneliti Lembaga Riset Perkebunan Indonesia juga memproduksi biobriket berbahan tandan kosong kelapa sawit. Setiap pengolahan 1 ton tandan buah segar menyisakan 22-23% atau sebanyak 220-230 kg tandan kosong. Bila sebuah pabrik berkapasitas 100 ton/ jam dengan waktu operasi selama 1 jam, maka akan dihasilkan sebanyak 2.200 kg tandan kosong.

Jumlah limbah tandan kosong di seluruh Indonesia pada 2004 mencapai 18,2-juta ton. Ini potensi energi yang besar dan bisa dibuat salah satunya menjadi briket arang. Selain tandan kosong, tempurung buah kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai briket. Teknologi pembuatan briket tandan dan tempurung kelapa sawit sama saja dengan cara di atas. Permukaan briket limbah kelapa sawit halus dan tidak menimbulkan jelaga.

Dengan segala kelebihan itu mestinya sampah-sampah yang selama ini menjadi masalah di kota-kota besar segera tertanggulangi. Jakarta, misalnya, menghasilkan 20.000 ton sampah sehari. Jika separuhnya sampah organik, Jakarta dapat memproduksi 2.500 ton biobriket per hari.

(Sardi Duryatmo/Peliput: Faiz Yajri & Niken Anggrek Wulan)

Source: http://www.alpensteel.com/article/56-110-energi-sampah–pltsa/2600–briket-dari-sampah-organik.html

Posted in Sampah dan Energi Alternatif | Leave a comment

Jenis-Jenis Plastik yang Ada Di Sekitar Kita

Plastik yang ada disekitar kita dapat dengan mudah dikenali dengan simbol atau lambang yang tertera. Ada 7 macam jenis plastik :
1. PETE atau ETE (Polyethylene terephthalate)

Jenis ini dipakai untuk botol plastik yang transparan dan tembus pandang seperti botol air mineral, botol minuman sari buah dan botol lainnya. Botol botol dengan bahan ini direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.


2. HDPE (High Density polyethylene)


Dipakai untuk botol susu atau minuman sari buah. Sama seperti jenis plastik sebelumnya, plastik ini direkomendasikan hanya untuk sekali pakai juga
3. V atau PVC (polyvinyl chloride)

Plastik ini adalah yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini sangat tipis dan paling sering digunakan sebagai pembungkus makanan. Kandungan zat berbahaya dari PVC mudah lumer bila kena makanan panas dan berminyak

4. LDPE (Low Density Polyethylene)

Jenis plastik ini biasanya dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Plastik yang terbuat dari bahan ini dapat didaur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Plastik dengan bahan ini bisa dibilang tidak dapat dihancurkan tetapi tetap baik untuk makanan. Contohnya plastik pembungkus gula, minyak goreng curah atau terigu.
5. PP (Polypropylene)

Pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman. Khususnya untuk botol minuman bayi. Pastikan melihat ada simbol tulisan ini jika ingin membeli wadah plastik yang baik.
6. PS (Polystyrene)

Bahan ini lebih dikenal dengan sebutan styrofoam. Didalam plastik ini terdapat bahan styrine yang berbahaya bagi otak dan sistem saraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Banyak negara seperti Amerika Serikat dan Cina menghindari penggunaan styrofoam.


7. Other (Polycarbonate)


Jenis plastik ini bening, tahan panas dan bisa dipakai berulang kali. Dapat ditemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minuman olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga dan plastik kemasan. -WIL-

Sumber : Majalah Kartini, Edisi Agustus – September 2008

Source: http://yunior.ampl.or.id/?tp=tahukah&view=detail&kode=68&path=123&ktg=2&select=1

Posted in Daur Ulang | Leave a comment