Menyambung Hidup dari Sampah Plastik

Suara Pembaruan – 07 Mei 2008

Seorang ibu dengan bangga menenteng tas plastik saat keluar dari sebuah pusat perbelanjaan kelas atas di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Di tempat yang sama, seorang pria berdasi membuang botol minuman kemasan di trotoar. Sang pemulung dan anaknya yang tengah lewat mengambil botol itu dan memasukkan ke karung.

Pemandangan membawa tas plastik atau biasa disebut kantong plastik, dan membuang botol minuman di sembarangan tempat telah menjadi “budaya” instan warga Jakarta. Padahal di belahan lain dunia ini, pemerintah dan warga negaranya tengah berjuang keras membatasi penggunaan plastik karena sangat berbahaya untuk kelestarian lingkungan hidup.

Pasalnya, sampah plastik atau benda-benda yang mengandung plastik (tas kresek, kantong plastik, bungkus permen, kemasan styrofoam, atau gabus) jika dibuang begitu saja ke dalam tanah, baru akan hancur dalam waktu sekitar 200 hingga 400 tahun.

Demikian halnya membakar sampah plastik sama saja menambahkan racun yang sangat berbahaya pada udara yang setiap saat kita hirup karena asap hasil pembakaran tersebut mengandung racun kimia yang bisa menyebabkan antara lain penyakit pada saluran pernapasan, kanker paru-paru, dan sebagainya. Sisa makanan yang terbungkus rapat dalam kemasan plastik, setelah 10 tahun berada di dalam timbunan sampah pun, jika pembungkusnya dibuka kembali, maka bentuknya masih tetap sama karena plastik pembungkusnya menghambat proses pembusukan yang seharusnya terjadi.

Kesadaran

Kesadaran akan bahaya sampah plastik ini belum menyentuh sebagian besar warga Jakarta. Di mana-mana sampah plastik berserakan. Ke mana saja kita melangkah di ibukota ini, kaki pasti menyentuh sampah plastik.

Beberapa tahun lalu, sampah plastik hanya dilihat sebagai sampah semata. Hampir-hampir tidak ada yang melihat sisi positif pada sampah plastik, bahkan pemulung pun enggan mengumpulkannya. Mereka lebih senang mengumpulkan kardus, kertas, atau besi tua karena harganya mahal. Padahal sejatinya, sampah plastik ini bisa didaur ulang menjadi bahan baku pembuatan plastik.

Permintaan terhadap bahan baku ini pun sangat besar sehingga pabrik pembuatan plastik sering kehabisan stok bahan baku. Belum lagi kalau dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerjanya. Dalam bisnis ini banyak pihak yang terlibat. Misalnya pemulung, penampung, bandar sampah plastik bekas, maupun pemasok ke perusahaan daur ulang sampah plastik.

Di dalam perusahaan/pabrik daur ulang sampah plastik sendiri banyak menampung tenaga kerja, mulai dari tenaga sortir plastik, tenaga giling, tukang pres, tukang jemur, tenaga pengepakan (packing) sampai staf administrasi dan keuangan. Mereka semua mendapatkan upah yang cukup lumayan dan memadai untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari.

Usaha daur ulang plastik, juga sangat berperan dalam membantu dan memelihara kebersihan lingkungan. Berbagai sampah plastik tersebut jika dibiarkan akan menjadi timbunan sampah, yang lama-kelamaan merupakan ancaman bencana yang berbahaya. Sampah plastik tersebut tidak dapat terurai sehingga tidak ramah atau berbahaya bagi lingkungan.

Karena itu pula, Budi, pemulung di daerah Cawang, Jakarta Timur, menganggap sampah adalah rezeki yang harus dikejar. Sudah tiga tahun ia memungut sampah plastik, di samping sampah lain. Pasalnya, sampah plastik khususnya gelas air mineral selain harga mahal, juga mudah didapat, ringan dan banyak jenisnya. Budi mengaku, setiap kali menjual sampah plastik, ia bisa mengantongi Rp 30.000 hingga Rp 70.000. Tetapi pendapatannya tidak menentu, tergantung volume sampah yang didapat. “Enggak tentu Mbak, kalau pas nasib kita baik dapat banyak,” ujar pria asli Solo itu.

Senada dengan Budi, Icsan, pemulung Kampung Melayu, Jakarta Timur, mengatakan, ia spesialis sampah gelas air mineral karena ringan dipikul. Pria yang pernah menderita infeksi ginjal ini mengaku sudah sejak tiga tahun bekerja sebagai pemulung sampah plastik. Seharinya ia bisa memperoleh Rp 15.000. “Biar sedikit yang penting dapat,” kata pria yang tidak pernah menikmati bangku sekolah ini.

Sampah plastik yang dikumpul para pemulung dijual ke penadah atau biasa di sebut pengepul. Toto (55), seorang pengepul mengatakan, sebelum didaur ulang menjadi produk baru, plastik bekas diproses melalui beberapa tahapan, yakni dari pemulung dijual kepada pengepul (lapak), kemudian ke penggiling/penghancur, lalu dijual lagi ke pabrik pengolahan atau pencetakan untuk diolah menjadi barang baru.

Pada tahap pengepul, kata Toto, plastik bekas yang diambil pemulung dikumpulkan, kemudian ditimbang dan dibayarkan sesuai standar harga yang sudah ditetapkan. Sebelum dibawa ke penggilingan, sampah terlebih dahulu dibersihkan dan dipartai atau dipisahkan sesuai jenis dan warna plastik. Gelas air mineral lebih mahal karena mengandung plastik yang berkualitas baik, tahan panas, dan kuat. Sementara kantong kresek lebih murah karena kualitas kurang bagus, mudah patah, kurang elastis. Harga bisa ditambahkan jika barang yang dijual dalam keadaan bersih. “Kalau bersih biasanya harga lebih mahal, karena kita tidak perlu capek lagi,” ujar ayah tiga anak ini. Setiap bulan Toto bisa mengumpulkan plastik bekas sebanyak 1,7 ton dari 15 pemulung yang menjadi pekerjanya.

Sarjim (29), karyawan penggilingan Tiga Saudara di sekitar Kapuk, Jakarta Utara, mengatakan, sebelum digiling plastik dibersihkan dan disortir terlebih dahulu sesuai jenis dan warna plastik. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan nilai jual di pabrik pengolahan. “Biasanya, pabrik menolak barang kami kalau kualitasnya kurang bagus. Makanya kami harus benar-benar sortir dan teliti,” ujar ayah satu anak ini.

Untuk membedakan jenis plastik, pemulung, pengepul dan penggiling dituntut memiliki pengetahuan khusus tentang jenis plastik. “Butuh orang yang sudah pengalaman. Kalau tidak memiliki pengetahuan, kami pasti rugi,” kata Sarjim.

Hasil gilingan, lanjut dia, kemudian di jemur di bawah sinar matahari. Jika hari cerah maka hanya membutuhkan waktu dua jam untuk mengeringkan. Tetapi jika mendung, diperlukan satu hari bahkan lebih, tergantung jenis plastik. “Plastik kresek lebih lama kering,” jelasnya. Kalau sampah plastik susah dikeringkan dengan sinar matahari, pabrik menyiapkan oven. Setelah dikeringkan kemudian dikarungkan dan dikirimkan ke pabrik.

Hartono, karyawan pabrik pengolahan sampah plastik di Jakarta Timur, mengatakan, di pabrik pengolahan, sampah yang sudah disortir dimasukan ke dalam mesin injeksi biji pada suhu tertentu. Setelah tercetak menjadi biji kemudian didinginkan dengan air dan dijemur lagi. Setelah kering, biji tersebut dicetak menjadi produk baru sesuai bentuk yang diinginkan.

Hasil akhir dari daur ulang plastik adalah berbagai keperluan rumah tangga di antaranya, kursi, meja, sapu, sendok makan, gelas air mineral, tali rafia serta mainan anak. Agar kualitas cetakan maksimal, kata dia, biji yang sudah didaur ulang dicampur dengan bahan yang asli atau baru. [Dina Manafe]

Source: http://digilib-ampl.net/detail/detail.php?row=1&tp=artikel&ktg=sampahdalam&kd_link=&kode=1961

This entry was posted in Inspirasi Bisnis. Bookmark the permalink.

One Response to Menyambung Hidup dari Sampah Plastik

  1. Niko says:

    Apakah ada rekan2 yang mengetahui bagaimana cara botol2 plastik bekas bisa dirubah menjadi barang berharga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s