Mardjito, Pengepul Sampah Beromzet Ratusan Juta Rupiah Per Bulan

Dulu Tinggal di Kandang, Kini Tampung Karyawan

Sampah sering membuat orang jijik, tapi tak sedikit orang yang berubah makmur karena bergelut dengan sampah. Salah satu di antara mereka adalah Mardjito. Pria asal Malang itu datang ke Surabaya tanpa modal, kini jadi juragan, dan punya rumah lebih dari tiga.

THORIQ S. KARIM

BERKAUS singlet yang warnanya sedikit kusam dipadu sarung kotak-kotak, Mardjito mengawasi karyawannya memilah-milah sampah di sekitar rumahnya di Jalan Kutisari Utara. Puluhan ton sampah plastik bertumpuk di lahan seluas 40 meter persegi itu.

Ada botol, ada gelas bekas tempat air minum, dan lain-lain. Di gunungan sampah itulah karyawan Mardjito memilah-milah sampah. Sesekali pria 53 tahun tersebut ikut memilah dan memasukkannya ke dalam karung. Sampah pilihan itu kemudian dikirimkan ke pengolahan milik Mardjito di Medokan Semampir, Sukolilo. ”Sampah-sampah ini nanti saya jual lagi,” katanya.

Selain sampah, di lahan itu terdapat beberapa ruang yang masing-masing seluas 3 x 2 meter. Disitulah para karyawan Mardjito tinggal. Mereka bekerja sejak subuh sampai petang. Namun, selama 33 tahun mengelola bisnis sampah tersebut, Mardjito tak tahu pasti jumlah karyawannya.

Siapa pun boleh ikut asal mau bekerja keras. ”Tempat tinggal dan makan ikut saya. Sedangkan upahnya saya perintahkan ditabung,” papar suami Maklupah itu. Dia ingin, suatu saat, karyawannya bisa menggunakan uang tersebut untuk modal, mengikuti kesuksesannya.

Hampir setiap hari Mardjito menerima pasokan sampah dari pemulung. Sampah-sampah itulah yang dipilah sebelum dibawa ke Medokan. ”Di sana (Medokan, Semampir, Red.) saya giling sampai berbentuk sobekan plastik kecil-kecil,” tuturnya sambil menunjukkan contoh plastik yang sudah digiling.

Plastik yang sudah digiling tersebut kemudian dijual ke pabrik yang membutuhkan untuk diolah kembali. Dari usaha sederhana itu, Mardjito mengaku bisa meraup keuntungan dua kali lipat. ”Botol (bekas tempat air mineral) ini saya beli dari pemulung Rp 2.500. Kalau sudah bersih dan digiling, harganya bisa dua kali lipat,” paparnya.

Sebagian besar keuntungan tersebut ditabung. Berkat ke-utun-annya itu, kini bapak lima anak tersebut punya dua truk tronton, satu truk Colt Diesel, satu pikap, tanah, dan rumah lebih dari tiga yang tersebar di beberapa tempat di Surabaya.

Dalam sebulan, Mardjito mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp 130 juta. Biaya itu untuk honor dan makan karyawan, pengoperasian kendaraan, serta perawatan mesin giling.

Pria berkulit gelap tersebut mengaku banyak mengalami kepahitan sebelum menuai sukses. Dia masuk Surabaya pada 1977 bersama tiga adiknya -dua laki-laki dan satu perempuan. ”Saya harus menjual dua ekor ayam untuk biaya perjalanan dari Malang ke Surabaya,” tuturnya.

Di Kota Pahlawan, Mardjito dan tiga adiknya tinggal di Jalan Ikan Musing, di kawasan Perak. Kondisinya serba terbatas. Uang hasil jual ayam hanya cukup untuk biaya perjalanan. ”Karena tidak punya uang, kami tinggal di kandang ayam di lahan kosong,” ungkap pria yang berangkat haji pada 2007 itu.

Untuk menyambung hidup, Mardjito dan dua adik laki-lakinya mencari sampah, kemudian dijual. Sedangkan adik perempuannya menjadi buruh cuci di perumahan.

Setiap pagi mereka berpencar, malamnya berkumpul kembali. Uang penghasilan tiap hari dihitung bersama-sama, lalu disimpan sendiri-sendiri. ”Saya tidak mau hanya karena uang merusak persaudaraan. Makanya, uang dibawa sendiri-sendiri,” papar pria yang hanya mengenyam pendidikan SD itu.

Lama bergelut dengan sampah, Mardjito pun akhirnya memahami seluk-beluk usaha sampah plastik. Pergaulan mereka juga makin luas, terutama dengan sesama pemulung. Beberapa di antara mereka adalah pemulung yang tinggal di bawah Jembatan Nginden-Panjang Jiwo.

Melihat ”markas” pemulung itu, dalam pikiran salah seorang adik Mardjito tebersit untuk membuka usaha di bawah jembatan tersebut. Bermodal uang tabungan berbulan-bulan, dia membeli sampah milik para pemulung di bawah jembatan, kemudian dijual kembali.

Namun, usaha itu tidak membuahkan hasil. Dia merugi dan mengadu kepada Mardjito. ”Saya langsung turun tangan mengelola usaha adik saya itu,” katanya.

Setelah melakukan riset kecil-kecilan, Mardjito paham penyebab kerugian yang dialami adiknya. Yakni, tidak melalui proses pemilahan sampah. Akibatnya, sampah yang dibeli hanya bisa dijual separo. ”Selebihnya dibuang karena tidak laku dijual,” terang Mardjito.

Karena itu, Mardjito pun memulai usaha dengan proses pemilahan. Dua adiknya ditugasi memilah-milah sampah tersebut. Ternyata, untung. Dia ingat, pada Januari 1978, Mardjito sudah mampu membeli sepeda motor untuk adiknya. Kemudian, bulan berikutnya, adik yang satunya juga dibelikan sepeda motor.

Usahanya terus berkembang. Mardjito yang rajin menabung itu sudah mampu membeli tanah dan membangun rumah di beberapa tempat. Namun, dia memilih tetap tinggal di bawah jembatan.

Pada 2000, Mardjito terjaring razia Satpol PP. Dia dimasukkan panti sosial di Jalan Pahlawan, Sidoarjo. Di tempat itulah dia belajar membaca, menulis, dan bekerja. Sedangkan usahanya yang digusur itu tumbuh kembali, dikelola istrinya. ”Sesekali saya mengecek ke sana,” katanya.

Sekitar satu tahun tinggal di panti, Mardjito mengaku mendapat tambahan banyak pengetahuan. Dia juga mendapat bantuan mesin giling sampah dari pemerintah. ”Saya kembali ke jembatan untuk mengembangkan usaha lagi,” ungkapnya.

Namun, setelah beberapa bulan mengembangkan usaha dengan mesin baru itu, Mardjito terkena gusur lagi. Mesin, tempat tinggal, dan usahanya hancur. Saat itulah dia mulai berpikir untuk membangun usaha di lahan legal. Dia pun membuka usaha di Jalan Kutisari Utara I itu.

Kini usahanya terus berkembang. Omzetnya mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Jika dulu tidur di kandang ayam, kini Mardjito tinggal pilih mau tinggal di mana. Sebab, rumahnya lebih dari tiga.

Satu pesan yang senantiasa dia sampaikan kepada karyawannya adalah, asal mau bekerja, uang pasti datang. Ketika uang itu datang, jangan lupa terhadap sesama. ”Rezeki harus dibagi. Jangan dimakan sendiri,” tuturnya. (*/c3/cfu)

Source: http://www.jawapos.co.id/sportivo/index.php?act=detail&nid=127404

This entry was posted in Inspirasi Bisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s