Panen Minyak dari Sampah

KabarIndonesia – Tiga pria dan dua wanita warga Desa Domplang, Karangpandan, Karanganyar, terlihat sibuk memunguti kol, sawi, tomat, dan jeruk dari tumpukan sampah di pasar Karangpandan. Kulit durian dan nangka pun tak luput dari incaran mereka. Sampah sayur dan buah lalu dimasukkan ke karung dan dibawa ke penampungan dengan sepeda motor. Di sana sampah itu diolah jadi minyak tanah.

Minyak tanah? Ya, sampah organik itu mengandung karbohidrat berupa selulosa dan glukosa. Sampah itu jadi bahan baku bioetanol berkadar rendah yang daya bakarnya setara minyak tanah. “Kadarnya etanol yang dihasilkan 45-50%. Namun sudah mampu gantikan minyak tanah untuk bahan bakar kompor,” kata Soelaiman Budi Sunarto, pencetus bioetanol dari sampah di Karanganyar, Jawa Tengah.

Di penampungan sampah organik lalu dihancurkan dengan mesin pemeras. Cairan yang keluar dari perasan disaring kain kasa dan dikumpulkan di drum plastik.  Setiap 100 liter air perasan ditambahkan 100 g ragi, 2 sendok makan urea, dan 1 sendok NPK, lalu didiamkan 5 hari agar proses fermentasi-perubahan karbohidrat menjadi bioetanol-berlangsung.

Berikutnya bioetanol yang masih bercampur air disuling selama 12 jam di sebuah drum agar terpisah. “Agar biaya rendah, bahan bakar untuk menyuling dipakai sekam atau kayu bekas yang tidak berharga,” kata Budi. Menurut Budi dari 1 ton sampah organik dihasilkan 20% air perasan sampah-setara 200 kg. Setelah disuling diperoleh 26,6% bioetanol berkadar 45% yang setara dengan 53,2 kg bioetanol.

Bioetanol berkadar rendah-setara minyak tanah-itu masih bisa ditingkatkan kadar kemurniannya dengan penyulingan bertingkat atau pengaturan panas saat proses. “Bila kadarnya ditingkatkan menjadi 98-100% setara dengan bensin yang bisa dipakai untuk kendaraan bermotor,” tutur Budi.

Selain ‘minyak tanah’ Budi juga mendapat bonus produk lain. Yang pertama ampas sampah padatan bisa diolah menjadi pakan ternak dan pupuk kompos. Yang kedua sisa sulingan bioetanol-yang berupa air-dapat diolah menjadi pupuk cair setelah dicampur dengan urin mamalia. Pupuk cair asal sisa sulingan plus urin kaya nitrogen dan ion yang mudah diserap tanaman.

Melimpah

Menurut Budi lahirnya bioetanol dari sampah organik menjadi jawaban atas langkanya bahan baku bioetanol dari singkong dan sorghum. “Dari singkong dan shorgum butuh waktu 3-8 bulan untuk menanam sampai panen. Pada sampah bahan bakunya sudah tersedia sehingga tak perlu menunggu,” kata Budi.

Toh, menurut Budi bioetanol dari singkong dan sorghum sudah jauh lebih baik ketimbang bahan bakar fosil yang butuh waktu 150 juta tahun untuk membentuknya. “Intinya ini menjadi alternatif yang pantas dilakukan ketimbang sampah menjadi problem masyarakat,” katanya.

Belakangan sampah memang menjadi masalah yang mendera berbagai kota di tanahair. Sebut saja Jakarta. Setiap hari dihasilkan 6.000 ton sampah per hari dari aktifitas warganya. Lalu berturut-turut Surabaya (5.200 ton), Semarang (4.300 ton), dan Palembang (2.877 ton). Diperkirakan sebanyak 70% dari sampah itu berupa sampah organik dan sisanya 30% sampah anorganik.

Tingginya jumlah sampah organik di perkotaan itu menurut Prof Dr Ir Nuni Gofar MS, guru besar ilmu tanah di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang, akibat pola pertanian Indonesia yang memanen dan mengirim seluruh bagian tanaman ke pusat konsumsi di kota. Itu membuat bagian tanaman yang tidak termakan manusia di sortir di pasar, di dapur, dan pusat perbelanjaan di perkotaan yang membentuk tumpukan sampah organik yang menjadi masalah.

Kesatuan sistem

Jumlah sampah kota itu selalu meningkat dari tahun ke tahun. Riset Tarsoen Waryono, dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, melaporkan pada 2000 sampah di 384 kota di Indonesia jumlahnya 80,2 juta ton per hari dan meningkat menjadi 89,6 juta ton per hari pada 2006.

Sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebesar 10,4 %, dibakar sebesar 24,8 %, hanyut ke sungai 1,9 % dan tidak tertangani sebesar 62,9 %. Yang paling anyar ialah kasus Tangerang Selatan yang kesulitan mencari penampungan sampah karena ditolak tempat penampungan sampah di Tangerang.

Menurut Endang Kurniawan SSi MT, direktur Indonesia Environment Consultant di Jakarta, pengolahan sampah sebagai bahan baku bioenergi menjadi produk baru yang mesti dipahami secara jernih. “Bioetanol, pakan ternak, kompos, dan pupuk cair dari sampah jangan dipandang sebagai usaha murni. Namun, harus dilihat sebagai kesatuan sistem pengolahan sampah,” katanya. Belakangan dari sampah dapat pula diolah menjadi tenaga listrik dan biogas.

Endang mengkhawatirkan pengolahan sampah menjadi beragam komoditi itu membuat pemerintah atau pihak swasta menganggap usaha itu sebagai bisnis menguntungkan. “Nilai jual beragam komoditi itu masih rendah bila dibandingkan dengan komoditi sejenis yang anorganik. Misalnya, minyak tanah dari bahan fosil atau pupuk kimia anorganik. Jadi harga jual produk tidak kompetitif,” kata master Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung itu.

Dengan kata lain, biaya investasi dan biaya produksi yang dikeluarkan sangat tinggi ketimbang nilai jual produk. Sebaliknya, bila dipandang sebagai kesatuan sistem pengolahan sampah, maka lahirnya beragam komoditi berguna itu sangat menguntungkan. “Biaya produksi diambil dari biaya pengolahan sampah yang dipungut oleh Dinas Kebersihan Kota atau swasta dari konsumen. Sementara biaya investasi diambil dari pemerintah daerah atau investor,” kata Endang.

Selama ini iuran rumah tangga konsumen untuk pembuangan sampah rata-rata Rp 3.500 – Rp 5.000 per bulan. “Biasanya disebut uang sampah atau uang kebersihan,” kata Endang. Tentu itu masih jauh dari biaya yang harus dikeluarkan, nilai yang ideal di kisaran Rp 10.000 – Rp 20.000 per bulan.

Menurut Endang bila cara pandang kedua yang dipahami oleh pemerintah daerah, maka munculnya produk bioenergi, pakan ternak, kompos, dan pupuk cair dari sampah menjadi nilai tambah dari pengolahan sampah yang selama ini tak menghasilkan apa-apa. Tertarik ikuti jejak warga Karangpandan memanen minyak dari sampah? (Destika Cahyana)

Source: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Panen+Minyak+dari+Sampah&dn=20100308231826

This entry was posted in Sampah dan Energi Alternatif. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s